Konstruksi Tahan Gempa Dalam Pembangunan Pasca Tsunami di Palu

             Gempa bumi dengan magnitudo hingga 7.4 SR yang menimbulkan tsunami telah mengguncang wilayah perairan Palu sekitarnya, yakni Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Donggala, pada Jumat (28/9) tahun lalu. Dari informasi melalui berita online yang beredar, rentetan peristiwa hingga terjadinya tsunami tersebut telah menghancurkan kurang lebih 68.451 unit rumah, 327 unit rumah ibadah, 265 unit sekolah, perkantoran 78 unit, toko 362 unit, jalan 168 titik retak, dan 7 jembatan (sumber      :https://tirto.id/bnpb-kerugian-kerusakan-gempa-di-sulteng-capai-rp1382-triliun-c8dX)

           Untuk membantu korban terdampak tsunami, pemerintah memberikan hunian sementara (huntara) bagi korban bencana yang kehilangan tempat tinggal. Skema pertama, berupa pembangunan hunian tetap (huntap) yang didahului dengan hunian sementara (huntara). Skema ini diperuntukkan bagi warga yang rumahnya benar-benar hancur total sehingga tidak bisa diperbaiki lagi. Huntara yang sudah selesai, secara bertahap mulai ditempati oleh masyarakat yang selama ini tinggal di shelter, salah satunya di Kelurahan Silae, Kecamatan Ulujadi. Huntara lainnya di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, selain hunian, pembangunan dan perbaikan fasilitas umum seperti sekolah, rumah sakit dan puskesmas juga akan menggunakan konstruksi tahan gempa. Sudah selayaknya bagi korban bencana tsunami Palu mendapat hunian yang senyaman mungkin karena rumah akan digunakan dalam jangka waktu cukup lama. 

            Konstruksi tahan gempa diawali dari material atau bahan baku yang juga tahan gempa dan tidak beresiko tinggi jika terjadi gempa. Mengantisipasi kemungkinan terburuk akibat gempa tersebut, ada material atap penutup serta rangka yang aman terhadap guncangan gempa. Penutup atap galvalum atau dari rangka atap baja ringan menjadi solusinya. Baja ringan memiliki kelebihan selain ringan, tahan terhadap cuaca dan korosi, juga memiliki kelebihan mudah dan cepat dalam pemasangannya.  Material tersebut ringan namun kuat. Inilah yang membuatnya tahan terhadap gempa, asal dikerjakan secara tepat oleh ahlinya.

              Dibandingkan dengan bahan kayu yang kini semakin sulit didapat, dan beban kayu yang begitu berat sangat beresiko saat terjadi gempa. Sifat material baja ringan jauh lebih ringan serta pemasangannya untuk rangka atap dapat menghemat waktu dan mempercepat proses pengerjaan. Selain karena bobotnya yang ringan sehingga mempermudah proses konstruksi, rangka atap baja ringan juga memiliki sistem sambungan yang tidak terlalu rumit. Sambungan yang dipakai bisa berupa skrup, baut, keling ataupun las. Sistem sambungan baja ringan yang sudah didesain dari pabrik membuatnya mudah untuk dirangkai ke konstruksi lainnya seperti beton atau kayu. PT. Indoberka Investama sebagai supplier baja ringan berusaha maksimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Baja ringan IBI Truss sudah dipercaya oleh masyarakat sebagai bahan baku rangka atap. Kini Anda tidak perlu ragu untuk bermitra bersama kami.